Belajar Langsung tentang Pendidikan Karakter, Peserta Summer Course IKK Kunjungi Lab School Pendidikan Karakter IPB dan IHF
Belajar Langsung tentang Pendidikan Karakter, Peserta Summer Course IKK Kunjungi Lab School Pendidikan Karakter IPB dan IHF





Bogor, 5 Agustus 2025 – Hari kedua The 9th Summer Course “Nurturing Harmony in Family Life for Sustainable Living “ yang diselenggarakan oleh Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia, IPB University, memberikan pengalaman langsung bagi peserta untuk memahami pendidikan karakter sejak usia dini. Kegiatan dilakukan secara luring melalui kunjungan ke Labschool Pendidikan Karakter IPB dan Indonesia Heritage Foundation (IHF).
Di Labschool Pendidikan Karakter IPB, peserta diajak menyaksikan dan ikut serta dalam rangkaian kegiatan harian anak-anak, mulai dari penyambutan di pintu masuk, morning circle, hingga berbagai aktivitas kelas. Setelah morning circle, peserta Summer Course dibagi ke dalam tiga kelompok observasi, menyesuaikan dengan jumlah kelas anak-anak di Lab School. Tiga kelas dengan pendekatan berbeda menampilkan proses belajar yang berfokus pada pembentukan karakter, kerja sama, dan keterlibatan emosi positif.
“The atmosphere was so enthusiastic and full of laughter as everyone played and danced together with the children,” ungkap Janah, salah satu peserta Summer Course yang terkesan dengan keceriaan dan interaksi alami yang terbangun selama kegiatan.
Usai dari Lab School, peserta melanjutkan perjalanan ke kantor pusat IHF. Mereka disambut hangat oleh tim IHF dan mengikuti tur singkat untuk melihat ruang podcast, ruang band, ruang belajar untuk anak berkebutuhan khusus, ruang belajar kelas reguler, serta mengenal sejarah dan filosofi lembaga ini dalam mengembangkan pendidikan karakter sejak tahun 2005.
Dr. Ratna Megawangi, M.Sc., pendiri IHF, menjadi pemateri pertama dengan tema “Character-Based Education for Inclusive and Harmonious Families.” Dalam sesi ini, ia menekankan pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter dan kontrol diri anak. “Good parents know how to treat the child for grow,” katanya. Ia juga mengingatkan bahwa perceraian orang tua dapat berdampak jangka panjang pada anak, seperti kecanduan, depresi, bahkan kekerasan. “Children from divorced families can contribute to the breakdown of society,” tegasnya.
Menurutnya, membangun karakter sangat berkaitan dengan keterikatan emosional dan kemampuan regulasi diri. “Attachment is very important for self-control. Building character builds the self-regulation,” ujarnya.
Saat sesi tanya jawab, Inuwa Sani Sani dari Nigeria menanyakan tantangan mendirikan sekolah karakter di Indonesia. Megawangi menjelaskan bahwa sejak awal IHF berdiri, tidak banyak yang peduli dengan isu karakter. Namun, tantangan tersebut dijawab dengan inovasi, kolaborasi dengan CSR, serta pendekatan teknologi. “People didn’t really care at first. But through collaboration and upper-middle-class support, we built our model, institutions, and network,” jelasnya.
Pandangan siswa dari sekolah binaan IHF juga menambah perspektif mengenai pendidikan dari sisi peserta, bukan hanya penyelenggara. Salah satu siswa SMP IHF, mengatakan, “Character is not just about learning, it’s also about mindset. I wouldn’t be here without this school.” Seorang siswi SMA tahun ketiga, menyebut program magang sebulan sebagai pengalaman favorit yang membentuk rasa tanggung jawab. “My favorite program is independence and responsibility,” ungkapnya. Mereka berdua turut menjadi buddies atau tour guide peserta saat sesi tur IHF.
Sesi berikutnya menghadirkan Prof. Dr. Ir. Dwi Hastuti, M.Sc. dari IPB University, yang membawakan tema “Evidence-Based Parenting Practices for Healthy Family Relationships.” Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya pola asuh otoritatif sebagai dasar pengasuhan yang seimbang. Ditegaskan pula oleh Prof. Tuti, “Parenting is not just about mothering. It’s more than that. We can be effective parents.”
Diskusi interaktif pun terjadi antara peserta dan para pembicara. Beberapa isu global seperti seks pranikah dan pernikahan dini turut menjadi sorotan. Prof. Dwi Hastuti menegaskan, “Authoritative parenting should start with knowledge and parental role. This is a global issue.”
Kegiatan hari kedua ini diharapkan memberikan wawasan mendalam bagi peserta tentang bagaimana karakter dibentuk bukan hanya melalui teori, tetapi juga praktik nyata di lingkungan sekolah. Kegiatan Summer Course akan berlanjut keesokan harinya, Rabu, 6 Agustus 2025.
